Cerita Jadi Cerita
Oleh
: Arum Puji Hastuti
Pagi ini aku
duduk di kursi depan kost teteh dengan tas punggung besar, nempel di kedua bahu
yang ukurannya nggak proposional banget dengan tubuhku yang kecil.
Merem-melek-merem-melek aku nunggu teteh yang sedari tadi nggak muncul-muncul,
ngemasin barang yang mau dia bawa pulang.
Mataku masih
ngantuk pagi ini, tadi malem abis nonton acara musik di Simpang Lima. Udah gitu
di sini airnya dingin, bbrr. Aku terpaksa mandi sepagi ini, biar nggak kena
macet di jalan.
Aku setengah
sadar merem, kepala yang rasanya berat akhirnya terjatuh juga untuk menghadap
ke bawah. Aku kaget ketika teteh keluar dari pintu, mengajakku segera cabut
dari Semarang. Dia nggak tahu posisi dudukku, sontak aku bangun berdiri bak
tentara yang siap perang, "siap, bersedia!" Teteh yang tengah
mengunci kamar kostnya, berbalik badan, heran, "ngapain kamu?"
Aku cuma
celingukkan, mesem-mesem nggak jelas dan garuk-garuk kepala yang nggak gatal
sama sekali. Ternyata tadi aku lagi terbang ke alam bawah sadarku ketika SMP
dilantik jadi pengurus OSIS. Semua yang dilantik dalam upacara itu pasti akan
bilang, 'SIAP, BERSEDIA!' Hehe.
***
Aku sama teteh
naik BRT di kawasan Milo, sebelumnya kami naik Colt L-300. Agak lama kami
nunggu Trans Semarang (busway) ini. Nggak seperti prediksiku, biasanya kalau
liburan yang naik banyak. Ini mah lebih mirip kuburan sepinya. Cuma ada 4 orang
yang naik, termasuk kami. Sampai tujuan terakhir, Mangkang aja cuma 3 orang.
Karena prediksi
salah alias dikit yang naik, dinginnya AC jadi kerasa. Sial, tadi ditawarin
pakek jaket nggak mau. Aku cuma pakek kaos oblong bergambarkan barong (cidera
mata dari teteh di Pulau Dewata), celana jeans dan sandal kodok.
Mampus.
***
Tiba di Stasiun
Mangkang, aku berjalan keluar BRT. Dingin banget, aku ngliatin orang-orang di
luar dari kaca jadi pengen cepet-cepet keluar dan bersujud syukur bak telah
terbebas dari kutub tanpa pakaian hangat. Sampainya di luar, sinar matahari
menyirami sekujur badanku, hangat.
Tiba-tiba kernet
bus menawari aku sama teteh untuk naik busnya. Sebenarnya pas banget dengan
tujuan kami, Weleri. Teteh setengah berbisik padaku untuk nggak usah naik kalau
udah penuh karena tas teteh super berat trus keadaan dia juga kurang fit, jadi
mau cari bus yang agak longgar. Tapi si kernet tahu, spontan dia nyari'in
tempat duduk buat kami. Eh yang ada cuma satu tempat yang kosong. Jadi, ku persembahkan
untuk teteh duduk.
Aku berdiri di
awak bus, sesekali pegangan sama besi, jok, atau mbenerin tasku yang nggak
kalah berat. Sedangkan teteh duduk di jok depan, tepatnya belakang sopir. Dari
belakang badan ada yang menyenggolku. Ternyata hanya seorang ibu, menggendong
dunak berisi daun-daun pisang dan menggandeng anak perempuannya. Memang awalnya
akupun memandang sebelah mata, tapi itu nggak berlaku lama setelah aku
mendengar seorang ibu separuh baya bercerita kepada temannya.
Mereka berdua
duduk di depanku, mau nggak mau aku pasti denger ceritanya. Karena saking penuh
busnya, jadi terdengar jelas cerita ibu itu yang mulai cerita seturunnya ibu
penjual daun pisang di Pasar Kendal dengan anaknya.
Jadi gini..
Namanya
Tarkeni, penjual daun pisang yang terkena penyakit benjol-benjol di seluruh
tubuh. Entah apa nama penyakit itu Tarkeni nggak pernah periksa ke dokter
karena himpitan ekonomi. Tiap 3 kali seminggu Tarkeni membeli daun pisang pada
Haji Dahlan. Karena nggak tiap hari daun-daun pisang tumbuh dan daun pisang
yang dibutuhkan harus besar nan lebar.
Lina,
anaknya ikut membantu Tarkeni. Tiap hari Minggu atau libur sekolah. Dia biasanya
mencari daun katuk di sekitar kebun pisang milik Haji Dahlan untuk dimasak
ibunya nanti. Ternyata Lina juga menderita penyakit yang sama dengan Tarkeni,
benjolan-benjolan mulai tumbuh di sebagian tubuh Lina.
Hari
itu Tarkeni hanya mampu membeli Rp 4.000 daun pisang. Tentu nggak banyak
jumlahnya, cuma ada 15 ikat daun pisang. Tarkeni mulai menjajankan daunnya
dengan memulai jalan kaki menuju jalan raya. Agak jauh memang, walaupun ada
ojek tapi uangnya cuma cukup buat ongkos bus ke pasar dan modal. Tak apalah,
syukur-syukur ada yang mau beli di jalan, pikirnya.
Tarkeni
hanya berbekal sebotol air minum, ia siapkan dari rumah sebagai pelepas dahaga.
Sesampai di pasar, ia mengantarkan pesanan dari penjual tempe selaku
langganannya sebanyak 7 ikat. Setelah itu Tarkeni keliling pasar berharap
dagangannya laku. Sepanjang jalan Tarkeni melihat pedagang-pedagang tetap
ataupun nggak tetap di pasar yang menawarkan berbagai macam kebutuhan.
Tapi
untuk Tarkeni hanya daun pisang yang mampu ia jual. Dan kini semakin hari
pesanan dan minat para pembeli daun Tarkeni semakin menipis saja. Memang
sekarang jaman sudah modern, orang-orang lebih mengandalkan plastik dari pada
daun pisang. Tetapi Tarkeni tak patah semangat, ia tetap menawarkan seikat demi
seikat daun pisang.
Tinggal
2 ikat daun tersisa, setelah ia berkeliling kini ia dan Lina tengah duduk di
pinggir pintu keluar pasar. Menunggu pembeli sembari istirahat menikmati bekalnya. Tak lama, ada
seorang ibu yang mau membeli daunnya. Kebetulan ibu itu butuh 2 ikat. 2 ikat
yang seharusnya dibayar Rp 1.000 malah ditawar 2 ikat Rp 500 (Astaganagabonarjadidua,
untungnya aja cuma
dikit, Buk.
Masih aja ditawar!)
Tarkeni menerima saja, toh hari sudah siang. Yang penting jualan habis itu
Tarkeni sudah seneng.
***
Sesampai
di rumah, Tarkeni menghitung jualannya. Hanya Rp 6.000 yang ia dapat setelah
dipotong buat ongkos bus. Selepas menghitung, ia selalu menyisakan Rp 1.000 per
hari untuk membayar listrik yang ia simpan di kaleng kecil.
Membayar
listrik Rp 15.000 per bulan baginya sangat berat. Belum lagi untuk sekolah
Lina. Walaupun hidup susah tapi Tarkeni selalu berusaha agar Lina tetap
sekolah. Bagi Tarkeni, Lina adalah cahaya bagi hidupnya. Wajah Lina yang
mewarisi wajah Almarhum Sutikno, suaminya selalu menjadi penyemangat hidup
Tarkeni. Untuk makan Tarkeni hanya perlu membeli beras untuk berdua. Untuk lauk
pauknya sangat sederhana, sayur daun katuk yang Lina petik dan sesekali telur
dari ayam ternaknya.
***
Seorang ibu yang
bercerita ternyata dulu tetangga Tarkeni sebelum ikut suaminya di Wonotenggang.
Dia berhenti bercerita karena hampir sampai tujuannya, Ungup-ungup Weleri.
Teman ibu yang
mendengarkan cerita dari awal sampai ibu itu berpamitan hanya mangut-mangut
saja. Saking antusias ikut ndengerin cerita itu, aku baru sadar kalau bus sudah
longgar, bahkan cuma aku yang berdiri sekarang. Selepas ibu itu turun aku duduk
menggantikannya.
Iba rasanya
mendengar cerita tentang Ibu Tarkeni. Ternyata masih banyak orang yang hidup
pas-pasan bahkan kekuarangan. Huh, semoga saja saat Lina
beranjak dewasa Lina mampu ngluarin mereka dari keterpurukan hidup.
Dan ada orang yang mau mbiaya'in pengobatin Ibu Tarkeni dan Lina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar