Jumat, 23 Maret 2012

Cerpen : ADUAN DALAM CORETAN


ADUAN DALAM CORETAN
Langit di Kota Batu ini masih dikuasai tentara mendung yang dengan setia mengiringi kerajaan hujan ketika sang surya mulai lelah hingga malam yang tak peduli akan kehangatan. Teriak daun terhempas angin dan gemuruh riuk langit itu semakin membuat hati ini ingin adanya kehangatan. Kehangatan yang tak pernah tercicipi oleh jiwa ini. Kehangatan yang entah apa wujudnya tak dapat terdeteksi oleh otak ini. Kehangatan yang tak pernah tersentuh oleh jemari munggil ini. Kehangatan yang tak pernah menampakkan sosoknya di sepasang penglihatan ini, yang bahkan tak terdengar bisikan lirih di telinga ini.
            Aku masih terpaku lemas di daun jendela tua, menatap jauh kehampaan hingga mataku tertuju pada benda di jauh sana dan membiarkan tepias air menabrak wajah mendungku. Dari dulu, kemarin, tadi bahkan mungkin entah sampai kapan batinku teriris-iris jarum tajam itu. Jarum yang kecil, hingga tak ada yang tahu tentang teriakan hati ini. Yang dengan mudah menusuk hingga dasar hati yang terdalam. Dan membekas pahit hingga ku mati rasa.
***
Pikiranku terbang jauh pada suatu pagi hari itu…
Terdengar nyanyian burung yang belum ku tahu asal merdunya. Apakah di dalam bunga tidurku atau dari dunia yang sungguh menganak tirikan aku hingga rasa tak ingin lebih lama di sini. Kicauan itu semakin lama semakin meruncing, menyadarkan aku. Sumber suara itu ternyata bukan dari dunia anganku, melaimkan dari dunia yang kelam untukku salami. Tapi kicaun semangat keluarga unggas itu telah mengingatkanku akan satu hal. Ya, kali ini aku tak boleh bermalas - malasan lagi dan harus segera mempersiapkan semuanya.
            Aku tersenyum di depan benda yang menggambarkan akan sosok diriku itu. Ku rapikan kain putih dan biru tua yang melekat pada tubuhku ini lalu menyisir rambutku yang jatuh memanjang. Tak sabar aku untuk segera tiba di sana , padahal hari masih berat untuk menampakkan sinarnya. Ku pandangi dan ku nanti tiap detik yang terlahir dari benda bundar berwarna putih itu.
            Tepat pukul 06.20, aku mulai angkat kaki dari rumah megah bercat putih itu. Aku sengaja berangkat ke tempatku mengumpulkan ilmu - ilmu lebih pagi dari biasanya. Dan aku juga sengaja untuk menambil langkah kaki kecil sembari menangkap udara segar di sepanjang jalan yang ku lalui. “Begitu cerah cuaca hari ini dan semoga secerah nasibku kali ini.” Gumamku pada diri sendiri.
***
            Ku nanti sosok wanita yang melahirkanku, ataupun sosok pria yang menjadi pasangannya, setibaku di bangku pojok taman sekolah. Ya, karna hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Salah satu dari orang tua ku telah berjanji akan datang dan mengambil laporan hasil prestasiku selama kurang lebih enam bulan aku duduk di bangku kelas VIII ini. Sepasang bola mataku tak henti – hentinya untuk mencari salah satu dari sosok itu. Ya, saking semangatnya ternyata aku telah maju 2 meter dari tempatku menunggu semula.
Walaupun 30 menit sudah ku nantikan sosok itu yang tanpa ku sadari ternyata cukup melelahkan, tetapi kini ku tak memandang iri lagi pada teman – teman ku yang sudah masuk ruangan bersama salah satu dari orang tua tercintanya yang sudah hadir, karena aku yakin sebentar lagi salah satu orang tua ku juga akan hadir.
Sesosok wanita separuh baya itu terlihat berlari kecil ke arah di mana aku berpijak , karena memang waktu penerimaan rapor akan segera dimulai. Sosok yang ku lihat itu sangatlah tidak asing bagiku. Seorang yang ku lihat setiap hari, seorang yang menjadi temanku di rumah, seorang yang selalu setia mengantarkanku kemanapun aku ingin pergi, seorang yang setiap setengah tahun selalu berkunjung ke tempat ku memperoleh ilmu untuk mengambil hasil laporan belajarku. Ya, tubuhku kini lemas lunglai, senyumku yang menyatu dengan semangat itu rontok sudah, terhempas, tersapu oleh apa yang aku ingin dan rencanakan yang sudah ku bangun telah hilang setelah ku sadari sosok itu telah tepat berada di depan tubuh mungilku, Mbok Inem. Ya, Mbok Inem namanya. Mbok Inemlah yang sering ku lihat sehari – hari dari pada sosok yang melahirkanku, Mbok Inemlah yang yang selalu menjadi temanku di rumah, Mbok Inemlah yang selau setia mengantarkan ku kemanpun aku ingin pergi, dan Mbok Inemlah yang setiap setengah tahun telah mengambilkan laporan hasil belajarku.
***
Tepuk tangan untukku dari semua isi aula ini biasa ku lakoni setiap acara rutin setengah tahun. Ya, mereka semua pasti bangga kalau anaknya mendapat peringkat pertama di kelas bahkan di sekolahan seperti ku saat ini. Sebenarnya aku juga bangga dan bersyukur terhadap prestasi gemilangku ini. Tapi apa gunanya aku di sekolahan pintar dalam hal apapun yang aku mau, selalu mendapatkan sanjungan dari pahlawan – pahlawan tanpa tanda jasa dan teman – teman kalau orang tuaku tidak pernah bangga mempunyai anak sepertiku. Melirik buku hasil belajarku saja tidak pernah.
“Pa, Ma… Papa atau Mama lah yang ku tunggu, untuk sekedar mengambil sepucuk laporan hasil belajarku, bukan Mbok Inem…” Jeritku dalam hati.
***
            Ketika tengah malam bisu itu tiba – tiba terdengar suara alunan dua pasang kaki yang mengendap – endap penuh hati. Aku setengah sadar mengetahui akan hal itu. Tidak lama kemudian terdengarlah…
“ Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to you… “
Mataku langsung terbuka, tersadarkan akan hal yang baru saja ku dengar. Ya, setelah ku cermati dan ku cari ternyata sumber suara itu berasal dari kamar sebelah, yang di huni oleh kakakku, Rivan. Aku berjalan keluar dari daun pintu kamarku dan mengendap – endap ke sumber suara itu. Mataku mengintip dari sebatang kayu pahatan yang sedikit terbuka. Aku melihat Kak Rivan sangat bahagia, hangat dalam pelukan papa, mama dan cahaya kecil dari 2 batang lilin itu. Aku tersenyum melihatnya saat ku bayangkan yang berada dalam pelukan itu aku. Tapi senyumku tersapu sudah oleh kesadaranku saat papa dan mama hendak meninggalkan kamar dari seorang yang sedang mempunyai hari bahagia itu.
***
            Terik matahari yang telah melewati tengah siang itu masih membuat gerah saja. Sesampaiku membuka gagang pintu rumah aku terkejut melihat banyak balon dan kertas warna – warni yang menghias rumah ini. Seharunya aku tak terkejut lagi karena memang setiap tahun seperti inilah keadaan rumah jika sang pemilik hati papa dan mama berulang tahun. Ya, tidak sepatutnya aku terkejut atau iri dengan semua ini. Dari menghias rumah, memesan kue, undangan, dan cathringpun papa dan mama lah yang telah merancang sesempurna ini.
            Dan acara yang dimulai ketika sang surya telah berpaling itu usah sudah. Selama pesta itu berlangsung, tak selangkahpun kakiku boleh keluar dari kamar mungilku ini. Itulah perintah papa dan mama yang sudah ku hafal setiap tanggal 4 Agustus.
***
            Tiba – tiba ada yang membuka gagang pintu kamarku saat badanku sedang tersandar lemas di kursi belajar tua ini. Aku menoleh ke arah pintu kamarku dan . . . . “Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to you… “. Pemilik suara itu berjalan mendekat kepadaku dengan membawakan kue ulang tahun yang sangat ku idam – idamkan sejak kecil tepat di depan mukaku. Mataku langsung berkaca – kaca atas peristiwa yang ku lihat ini, aku diam tak percaya ada orang yang ingat hari ini adalah hari ulang tahunku. Ku pejamkan kedua mata ini dan memulai melontarkan harapan – harapan dalam hati, lalu meniup lilin berangka 14 itu dengan haru. Ku potong kue lembut di hadapanku dan ku berikan potongan pertama untuk orang yang sangat berjasa akan hal ini, Mbok Inem.
            Tak ku sangka aku mulai meneteskan air kesedihan di hadapannya dan mulai protes dengan nasibku…
Mbok, apa aku tak pantas lagi memanggil Ardianto Soebroto dan Elysa Soebroto sebagai Papa dan Mama ku? Aku sangat terbuang dan terpukul, Mbok. Aku ingin keluar dari belenggu ini. Dan aku ingin normal seperti yang lainnya.
Mbok, kenapa aku harus terlahirkan dari rahim Mama yang tak pernah menganggapku ada? Kenapa aku terlahir dengan keadaan seperti ini? Aku lelah Mbok…
Pa, Ma ku mohon lihatlah anakmu ini. Lihat walaupun hanya sekali saja dalam hidupmu. Kenapa Papa Mama selalu memperlakukan aku seperti ini? Kenapa Papa Mama selalu memperhatikan dan sangat menyayangi Kak Rivan? Sedangkan kepadaku..
Apa aku tak pantas menjadi anak Papa Mama? Apa kelahiranku di planet ini tak diinginkan? Aku hanya ingin seperti yang lain Pa, Ma.. Aku lelah..
***
            Di keesokan hari aku dipercaya oleh pihak sekolah untuk mewakili OSN bidang matematika tingkat Provinsi. Tentu aku selalu siap mengikuti bimbingan – bimbingan dari guru – guru ku. Sampai larut malampun aku tak apa agar aku tak memikirkan hal yang selalu kacau di rumah. Toh papa mama tidak pernah khawatir untuk mencariku, bahkan bertanya dimana aku beradapun tak pernah. Malah Mbok Inemlah yang cemas kalau aku terlambat pulang. “Sebenarnya yang orang tuaku ini siapa sih?” Tanyaku setiap pulang terlambat. Hmm, ya, dan sudah ku tebak akulah yang keluar menjadi juaranya. Kini tropi emas itu telah ku bawa untuk sekolah tercinta.
            Walaupun sudah menyumbangkan tropi emas, aku harus mengikuti bimbingan – bimbingan guru ini dan guru itu lagi. Ya, memang aku lebih betah berada di sekolah dari pada di rumah. Tapi kali ini aku benar – benar kelelahan akan jadwal padatku. Terlebih aku harus menyiapkan mental untuk berfikir di laga Internasional itu. Ya, aku telah dipercayai pihak sekolahan lagi bahkan dari pihak negara Indonesia tercinta ini untuk mewakili satu bidang yang diperebutkan satu gelar juara.
            Aku gugup memandang soal bertaraf Internasional ini. Kini yang terpikir olehku adalah papa dan mama. Ku beranikan diri bertanya dalam hati “apa Papa Mama akan bangga dan menoleh ke arahku jika aku keluar menjadi juara nanti? Ya, pasti iya. Aku harus yakin itu.” Tambah batinku saat itu.
***
            Berita akan keberhasilan dari rombongan yang berlaga di Negri Kanguru itu kini menyebar ke seliruh plosok negri. Kedatanagn kami telah ditunggu oleh Mentri Pendidikan, bahkan Bapak Presiden dan Wakil Presiden negri terkasih ini. Di pinggir tempat berparkirnya pesawat terbang itu telah disiapkan kalung bunga, yang akan dikalungkan pada setiap peserta setibanya menginjakkan kaki di Tanah Air Indonesia. Dan tentunya para orang tua dari peserta olympiade yang menguras fikiran itu telah setia menunggu anak emasnya yang dengan sukses memberikan berita gembira untuk keluarga bahkan negrinya.
            Aku sudah tahu, papa dan mama tidak mungkin meluangkan waktunya untuk anak yang entah dianggap atau tidak untuk sekedar hadir bahkan bangga dan tersanjung atas prestasiku kini. Jadi, ku tekadkan untuk mencari Mbok Inem saja, yang pasti telah setia menunggu kedatanganku dari perjalanan yang melelahkan ini. Pencarian akan sosok itu mulai ku sebar dari ujung pojok kiri sampai kanan di tempat tunggu para orang tua sang peraih prestasi – prestasi itu. Sampai – sampai ku jinjitkan kedua kaki ini, untuk mencari Mbok Inem. Dan tepat hampir dipojok, ku dapati sosok Mbok Inem yang berada di urutan ke 3 dari pojok kanan itu. Akupun langsung melambaikan tangan bahagia mungilku ini kepadanya. Tapi aku terkejut ketika yang membalas lambaian tanganku yang menari di udara ini terrnyata ada 3 orang.
            Mataku yang tadinya terpaku dengan Mbok Inem, kini telah berpaling untuk melihat siapa yang juga ikut membalas lambaianku. Dengan berlari kecil, kini kedua sosok itu telah tiba di hadapanku. Memeluk dan menangis haru untukku. Tetapi mataku hanya terpaku kosong melihat lurus ke depan, tak ada suara kecilpun keluar dari mulutku.
“Maafkan Papa Mama, Sayang. Papa dan Mama sangatlah menyesal. Kami baru saja tahu akan semua ini dari Mbok Inem. Maafkan kami, Nak. Papa dan Mama sangatlah bangga kepadamu”. Rintihan kedua orang tuaku yang disusul dengan peluk dan kecupan hangat membuat mataku berkaca – kaca, tapi tetap tak satupun kata keluar dari mulut kelu ku ini.
            Kini ku sangat sadar  siapa yang berkata dan melakukan ini padaku. Ya, terimakasih Tuhan. Terimakasih telah mendengar teriakan hatiku selama ini.
            “Ini semua untuk Papa dan Mama” akhirnya hanya kata – kata itu yang mampu terlahir oleh mulut kelu ku sembari aku tersenyum memegang dan menunjukkan medali emas yang bertengger manis di leherku ini.
***
            “Winda, ayo Sayang makan malam sudah siap!” ajak mama.
            “Iya Ma, sebentar lagi Winda akan turun.” balasku seraya menutup aduan masa laluku dalam diary biru bututku. Lalu menghadap cermin seakan tak percaya akan semua ini.
            “Terimakasih Pa, Ma, berkat Papa dan Mama aku tumbuh menjadi anak yang kuat.” Kataku lirih pada diri sendiri di hadapan cermin tua itu seraya bertekad untuk menjadikan semua ini sebagai pelajaran berharga dan untuk mengingatkan aku, bahwa aku bukanlah apa – apa tanpa papa dan mama.
            “Winda, ayolah kakakmu ini sudah lapar! Kami nggak akan mulai makan tanpa kamu.” Teriak lapar Kak Rivan.
            “Iya Kak.” Balasku dengan semangat dan berlari menuruni anak tangga menuju tempat papa, mama dan Kak Rivan berada.
~TAMAT~
[d-m a]
Arum Puji Hastuti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar