Minggu, 08 April 2012

Puisi : DILEMA


DILEMA

Dulu, hati ini biasa saja ketika kau ucap sayang
Dan kau melangkah jauh dari pandanganku
Disaat itu aku bingung, kenapa aku memikirkanmu
Yang tak ku terima dan pergi entah kemana

Dia datang, dengan seikat cinta yang siap tumbuh
Dan menawarkan pasukan cintanya kepadaku
Jawabku SAMA
Dan dia mencoba pergi dariku

Kini, mereka kembali
Hatiku gemetar tak katuan ketika melihatmu
Dan aku merasa damai bertemu dengannya
Manakah cinta sejatiku, dilema

(ARUM PUJI HASTUTI)

Puisi : SEBELUM FAJAR MENYAPA


SEBELUM FAJAR MENYAPA

Disini, sebelum fajar menyapa
Terbangun sosok pria kecil
Dingin, lapar
Kaki kecilnya bercumbu aspal
Untuk mencari sesuap nasi dari mobil ke mobil

Disana, sebelum fajar menyapa
Terlelap hangat para perut buncit
Perut yang berisi milyaran bangkai tikus
Tikus yang menggorogoti uang rakyat
Keji, busuk

O. . warna negeriku sebelum fajar

(ARUM PUJI HASTUTI)

Puisi : WALAU SATU KATA


WALAU SATU KATA

Tuhan, bolehkah aku meminta
Aku ingin kembali
Kembali ke hari itu
Hari dimana aku berniat pergi
Hari dimana aku menangis karena keliru

Tuhan. .
Aku ingin kembali ke pelukan itu
Merasakan hangat,tenang karnanya
Dan menangis,mohon ampun kesalahanku

Oh ibu . .
Maafkanlah anak nakalmu ini
Yang tak berpikir dingin
Yang tak mendengar kata darimu
Dan pergi tanpa menoleh sekalipun

Tuhan . .
Inginku kembali ke hari itu
Walau hanya terucap kata “Maaf’


(ARUM PUJI HASTUTI)

Cerpen : Cerita Jadi Cerita


Cerita Jadi Cerita
Oleh : Arum Puji Hastuti

Pagi ini aku duduk di kursi depan kost teteh dengan tas punggung besar, nempel di kedua bahu yang ukurannya nggak proposional banget dengan tubuhku yang kecil. Merem-melek-merem-melek aku nunggu teteh yang sedari tadi nggak muncul-muncul, ngemasin barang yang mau dia bawa pulang.
Mataku masih ngantuk pagi ini, tadi malem abis nonton acara musik di Simpang Lima. Udah gitu di sini airnya dingin, bbrr. Aku terpaksa mandi sepagi ini, biar nggak kena macet di jalan.
Aku setengah sadar merem, kepala yang rasanya berat akhirnya terjatuh juga untuk menghadap ke bawah. Aku kaget ketika teteh keluar dari pintu, mengajakku segera cabut dari Semarang. Dia nggak tahu posisi dudukku, sontak aku bangun berdiri bak tentara yang siap perang, "siap, bersedia!" Teteh yang tengah mengunci kamar kostnya, berbalik badan, heran, "ngapain kamu?"
Aku cuma celingukkan, mesem-mesem nggak jelas dan garuk-garuk kepala yang nggak gatal sama sekali. Ternyata tadi aku lagi terbang ke alam bawah sadarku ketika SMP dilantik jadi pengurus OSIS. Semua yang dilantik dalam upacara itu pasti akan bilang, 'SIAP, BERSEDIA!' Hehe.

***

Aku sama teteh naik BRT di kawasan Milo, sebelumnya kami naik Colt L-300. Agak lama kami nunggu Trans Semarang (busway) ini. Nggak seperti prediksiku, biasanya kalau liburan yang naik banyak. Ini mah lebih mirip kuburan sepinya. Cuma ada 4 orang yang naik, termasuk kami. Sampai tujuan terakhir, Mangkang aja cuma 3 orang.
Karena prediksi salah alias dikit yang naik, dinginnya AC jadi kerasa. Sial, tadi ditawarin pakek jaket nggak mau. Aku cuma pakek kaos oblong bergambarkan barong (cidera mata dari teteh di Pulau Dewata), celana jeans dan sandal kodok.
Mampus.

***

Tiba di Stasiun Mangkang, aku berjalan keluar BRT. Dingin banget, aku ngliatin orang-orang di luar dari kaca jadi pengen cepet-cepet keluar dan bersujud syukur bak telah terbebas dari kutub tanpa pakaian hangat. Sampainya di luar, sinar matahari menyirami sekujur badanku, hangat.
Tiba-tiba kernet bus menawari aku sama teteh untuk naik busnya. Sebenarnya pas banget dengan tujuan kami, Weleri. Teteh setengah berbisik padaku untuk nggak usah naik kalau udah penuh karena tas teteh super berat trus keadaan dia juga kurang fit, jadi mau cari bus yang agak longgar. Tapi si kernet tahu, spontan dia nyari'in tempat duduk buat kami. Eh yang ada cuma satu tempat yang kosong. Jadi, ku persembahkan untuk teteh duduk.
Aku berdiri di awak bus, sesekali pegangan sama besi, jok, atau mbenerin tasku yang nggak kalah berat. Sedangkan teteh duduk di jok depan, tepatnya belakang sopir. Dari belakang badan ada yang menyenggolku. Ternyata hanya seorang ibu, menggendong dunak berisi daun-daun pisang dan menggandeng anak perempuannya. Memang awalnya akupun memandang sebelah mata, tapi itu nggak berlaku lama setelah aku mendengar seorang ibu separuh baya bercerita kepada temannya.
Mereka berdua duduk di depanku, mau nggak mau aku pasti denger ceritanya. Karena saking penuh busnya, jadi terdengar jelas cerita ibu itu yang mulai cerita seturunnya ibu penjual daun pisang di Pasar Kendal dengan anaknya.
Jadi gini..

Namanya Tarkeni, penjual daun pisang yang terkena penyakit benjol-benjol di seluruh tubuh. Entah apa nama penyakit itu Tarkeni nggak pernah periksa ke dokter karena himpitan ekonomi. Tiap 3 kali seminggu Tarkeni membeli daun pisang pada Haji Dahlan. Karena nggak tiap hari daun-daun pisang tumbuh dan daun pisang yang dibutuhkan harus besar nan lebar.
Lina, anaknya ikut membantu Tarkeni. Tiap hari Minggu atau libur sekolah. Dia biasanya mencari daun katuk di sekitar kebun pisang milik Haji Dahlan untuk dimasak ibunya nanti. Ternyata Lina juga menderita penyakit yang sama dengan Tarkeni, benjolan-benjolan mulai tumbuh di sebagian tubuh Lina.
Hari itu Tarkeni hanya mampu membeli Rp 4.000 daun pisang. Tentu nggak banyak jumlahnya, cuma ada 15 ikat daun pisang. Tarkeni mulai menjajankan daunnya dengan memulai jalan kaki menuju jalan raya. Agak jauh memang, walaupun ada ojek tapi uangnya cuma cukup buat ongkos bus ke pasar dan modal. Tak apalah, syukur-syukur ada yang mau beli di jalan, pikirnya.
Tarkeni hanya berbekal sebotol air minum, ia siapkan dari rumah sebagai pelepas dahaga. Sesampai di pasar, ia mengantarkan pesanan dari penjual tempe selaku langganannya sebanyak 7 ikat. Setelah itu Tarkeni keliling pasar berharap dagangannya laku. Sepanjang jalan Tarkeni melihat pedagang-pedagang tetap ataupun nggak tetap di pasar yang menawarkan berbagai macam kebutuhan.
Tapi untuk Tarkeni hanya daun pisang yang mampu ia jual. Dan kini semakin hari pesanan dan minat para pembeli daun Tarkeni semakin menipis saja. Memang sekarang jaman sudah modern, orang-orang lebih mengandalkan plastik dari pada daun pisang. Tetapi Tarkeni tak patah semangat, ia tetap menawarkan seikat demi seikat daun pisang.
Tinggal 2 ikat daun tersisa, setelah ia berkeliling kini ia dan Lina tengah duduk di pinggir pintu keluar pasar. Menunggu pembeli sembari istirahat menikmati bekalnya. Tak lama, ada seorang ibu yang mau membeli daunnya. Kebetulan ibu itu butuh 2 ikat. 2 ikat yang seharusnya dibayar Rp 1.000 malah ditawar 2 ikat Rp 500 (Astaganagabonarjadidua, untungnya aja cuma dikit, Buk. Masih aja ditawar!) Tarkeni menerima saja, toh hari sudah siang. Yang penting jualan habis itu Tarkeni sudah seneng.

***

Sesampai di rumah, Tarkeni menghitung jualannya. Hanya Rp 6.000 yang ia dapat setelah dipotong buat ongkos bus. Selepas menghitung, ia selalu menyisakan Rp 1.000 per hari untuk membayar listrik yang ia simpan di kaleng kecil.
Membayar listrik Rp 15.000 per bulan baginya sangat berat. Belum lagi untuk sekolah Lina. Walaupun hidup susah tapi Tarkeni selalu berusaha agar Lina tetap sekolah. Bagi Tarkeni, Lina adalah cahaya bagi hidupnya. Wajah Lina yang mewarisi wajah Almarhum Sutikno, suaminya selalu menjadi penyemangat hidup Tarkeni. Untuk makan Tarkeni hanya perlu membeli beras untuk berdua. Untuk lauk pauknya sangat sederhana, sayur daun katuk yang Lina petik dan sesekali telur dari ayam ternaknya.

***

Seorang ibu yang bercerita ternyata dulu tetangga Tarkeni sebelum ikut suaminya di Wonotenggang. Dia berhenti bercerita karena hampir sampai tujuannya, Ungup-ungup Weleri.
Teman ibu yang mendengarkan cerita dari awal sampai ibu itu berpamitan hanya mangut-mangut saja. Saking antusias ikut ndengerin cerita itu, aku baru sadar kalau bus sudah longgar, bahkan cuma aku yang berdiri sekarang. Selepas ibu itu turun aku duduk menggantikannya.
Iba rasanya mendengar cerita tentang Ibu Tarkeni. Ternyata masih banyak orang yang hidup pas-pasan bahkan kekuarangan. Huh, semoga saja saat Lina beranjak dewasa Lina  mampu ngluarin mereka dari keterpurukan hidup. Dan ada orang yang mau mbiaya'in pengobatin Ibu Tarkeni dan Lina.