Minggu, 08 April 2012

Puisi : DILEMA


DILEMA

Dulu, hati ini biasa saja ketika kau ucap sayang
Dan kau melangkah jauh dari pandanganku
Disaat itu aku bingung, kenapa aku memikirkanmu
Yang tak ku terima dan pergi entah kemana

Dia datang, dengan seikat cinta yang siap tumbuh
Dan menawarkan pasukan cintanya kepadaku
Jawabku SAMA
Dan dia mencoba pergi dariku

Kini, mereka kembali
Hatiku gemetar tak katuan ketika melihatmu
Dan aku merasa damai bertemu dengannya
Manakah cinta sejatiku, dilema

(ARUM PUJI HASTUTI)

Puisi : SEBELUM FAJAR MENYAPA


SEBELUM FAJAR MENYAPA

Disini, sebelum fajar menyapa
Terbangun sosok pria kecil
Dingin, lapar
Kaki kecilnya bercumbu aspal
Untuk mencari sesuap nasi dari mobil ke mobil

Disana, sebelum fajar menyapa
Terlelap hangat para perut buncit
Perut yang berisi milyaran bangkai tikus
Tikus yang menggorogoti uang rakyat
Keji, busuk

O. . warna negeriku sebelum fajar

(ARUM PUJI HASTUTI)

Puisi : WALAU SATU KATA


WALAU SATU KATA

Tuhan, bolehkah aku meminta
Aku ingin kembali
Kembali ke hari itu
Hari dimana aku berniat pergi
Hari dimana aku menangis karena keliru

Tuhan. .
Aku ingin kembali ke pelukan itu
Merasakan hangat,tenang karnanya
Dan menangis,mohon ampun kesalahanku

Oh ibu . .
Maafkanlah anak nakalmu ini
Yang tak berpikir dingin
Yang tak mendengar kata darimu
Dan pergi tanpa menoleh sekalipun

Tuhan . .
Inginku kembali ke hari itu
Walau hanya terucap kata “Maaf’


(ARUM PUJI HASTUTI)

Cerpen : Cerita Jadi Cerita


Cerita Jadi Cerita
Oleh : Arum Puji Hastuti

Pagi ini aku duduk di kursi depan kost teteh dengan tas punggung besar, nempel di kedua bahu yang ukurannya nggak proposional banget dengan tubuhku yang kecil. Merem-melek-merem-melek aku nunggu teteh yang sedari tadi nggak muncul-muncul, ngemasin barang yang mau dia bawa pulang.
Mataku masih ngantuk pagi ini, tadi malem abis nonton acara musik di Simpang Lima. Udah gitu di sini airnya dingin, bbrr. Aku terpaksa mandi sepagi ini, biar nggak kena macet di jalan.
Aku setengah sadar merem, kepala yang rasanya berat akhirnya terjatuh juga untuk menghadap ke bawah. Aku kaget ketika teteh keluar dari pintu, mengajakku segera cabut dari Semarang. Dia nggak tahu posisi dudukku, sontak aku bangun berdiri bak tentara yang siap perang, "siap, bersedia!" Teteh yang tengah mengunci kamar kostnya, berbalik badan, heran, "ngapain kamu?"
Aku cuma celingukkan, mesem-mesem nggak jelas dan garuk-garuk kepala yang nggak gatal sama sekali. Ternyata tadi aku lagi terbang ke alam bawah sadarku ketika SMP dilantik jadi pengurus OSIS. Semua yang dilantik dalam upacara itu pasti akan bilang, 'SIAP, BERSEDIA!' Hehe.

***

Aku sama teteh naik BRT di kawasan Milo, sebelumnya kami naik Colt L-300. Agak lama kami nunggu Trans Semarang (busway) ini. Nggak seperti prediksiku, biasanya kalau liburan yang naik banyak. Ini mah lebih mirip kuburan sepinya. Cuma ada 4 orang yang naik, termasuk kami. Sampai tujuan terakhir, Mangkang aja cuma 3 orang.
Karena prediksi salah alias dikit yang naik, dinginnya AC jadi kerasa. Sial, tadi ditawarin pakek jaket nggak mau. Aku cuma pakek kaos oblong bergambarkan barong (cidera mata dari teteh di Pulau Dewata), celana jeans dan sandal kodok.
Mampus.

***

Tiba di Stasiun Mangkang, aku berjalan keluar BRT. Dingin banget, aku ngliatin orang-orang di luar dari kaca jadi pengen cepet-cepet keluar dan bersujud syukur bak telah terbebas dari kutub tanpa pakaian hangat. Sampainya di luar, sinar matahari menyirami sekujur badanku, hangat.
Tiba-tiba kernet bus menawari aku sama teteh untuk naik busnya. Sebenarnya pas banget dengan tujuan kami, Weleri. Teteh setengah berbisik padaku untuk nggak usah naik kalau udah penuh karena tas teteh super berat trus keadaan dia juga kurang fit, jadi mau cari bus yang agak longgar. Tapi si kernet tahu, spontan dia nyari'in tempat duduk buat kami. Eh yang ada cuma satu tempat yang kosong. Jadi, ku persembahkan untuk teteh duduk.
Aku berdiri di awak bus, sesekali pegangan sama besi, jok, atau mbenerin tasku yang nggak kalah berat. Sedangkan teteh duduk di jok depan, tepatnya belakang sopir. Dari belakang badan ada yang menyenggolku. Ternyata hanya seorang ibu, menggendong dunak berisi daun-daun pisang dan menggandeng anak perempuannya. Memang awalnya akupun memandang sebelah mata, tapi itu nggak berlaku lama setelah aku mendengar seorang ibu separuh baya bercerita kepada temannya.
Mereka berdua duduk di depanku, mau nggak mau aku pasti denger ceritanya. Karena saking penuh busnya, jadi terdengar jelas cerita ibu itu yang mulai cerita seturunnya ibu penjual daun pisang di Pasar Kendal dengan anaknya.
Jadi gini..

Namanya Tarkeni, penjual daun pisang yang terkena penyakit benjol-benjol di seluruh tubuh. Entah apa nama penyakit itu Tarkeni nggak pernah periksa ke dokter karena himpitan ekonomi. Tiap 3 kali seminggu Tarkeni membeli daun pisang pada Haji Dahlan. Karena nggak tiap hari daun-daun pisang tumbuh dan daun pisang yang dibutuhkan harus besar nan lebar.
Lina, anaknya ikut membantu Tarkeni. Tiap hari Minggu atau libur sekolah. Dia biasanya mencari daun katuk di sekitar kebun pisang milik Haji Dahlan untuk dimasak ibunya nanti. Ternyata Lina juga menderita penyakit yang sama dengan Tarkeni, benjolan-benjolan mulai tumbuh di sebagian tubuh Lina.
Hari itu Tarkeni hanya mampu membeli Rp 4.000 daun pisang. Tentu nggak banyak jumlahnya, cuma ada 15 ikat daun pisang. Tarkeni mulai menjajankan daunnya dengan memulai jalan kaki menuju jalan raya. Agak jauh memang, walaupun ada ojek tapi uangnya cuma cukup buat ongkos bus ke pasar dan modal. Tak apalah, syukur-syukur ada yang mau beli di jalan, pikirnya.
Tarkeni hanya berbekal sebotol air minum, ia siapkan dari rumah sebagai pelepas dahaga. Sesampai di pasar, ia mengantarkan pesanan dari penjual tempe selaku langganannya sebanyak 7 ikat. Setelah itu Tarkeni keliling pasar berharap dagangannya laku. Sepanjang jalan Tarkeni melihat pedagang-pedagang tetap ataupun nggak tetap di pasar yang menawarkan berbagai macam kebutuhan.
Tapi untuk Tarkeni hanya daun pisang yang mampu ia jual. Dan kini semakin hari pesanan dan minat para pembeli daun Tarkeni semakin menipis saja. Memang sekarang jaman sudah modern, orang-orang lebih mengandalkan plastik dari pada daun pisang. Tetapi Tarkeni tak patah semangat, ia tetap menawarkan seikat demi seikat daun pisang.
Tinggal 2 ikat daun tersisa, setelah ia berkeliling kini ia dan Lina tengah duduk di pinggir pintu keluar pasar. Menunggu pembeli sembari istirahat menikmati bekalnya. Tak lama, ada seorang ibu yang mau membeli daunnya. Kebetulan ibu itu butuh 2 ikat. 2 ikat yang seharusnya dibayar Rp 1.000 malah ditawar 2 ikat Rp 500 (Astaganagabonarjadidua, untungnya aja cuma dikit, Buk. Masih aja ditawar!) Tarkeni menerima saja, toh hari sudah siang. Yang penting jualan habis itu Tarkeni sudah seneng.

***

Sesampai di rumah, Tarkeni menghitung jualannya. Hanya Rp 6.000 yang ia dapat setelah dipotong buat ongkos bus. Selepas menghitung, ia selalu menyisakan Rp 1.000 per hari untuk membayar listrik yang ia simpan di kaleng kecil.
Membayar listrik Rp 15.000 per bulan baginya sangat berat. Belum lagi untuk sekolah Lina. Walaupun hidup susah tapi Tarkeni selalu berusaha agar Lina tetap sekolah. Bagi Tarkeni, Lina adalah cahaya bagi hidupnya. Wajah Lina yang mewarisi wajah Almarhum Sutikno, suaminya selalu menjadi penyemangat hidup Tarkeni. Untuk makan Tarkeni hanya perlu membeli beras untuk berdua. Untuk lauk pauknya sangat sederhana, sayur daun katuk yang Lina petik dan sesekali telur dari ayam ternaknya.

***

Seorang ibu yang bercerita ternyata dulu tetangga Tarkeni sebelum ikut suaminya di Wonotenggang. Dia berhenti bercerita karena hampir sampai tujuannya, Ungup-ungup Weleri.
Teman ibu yang mendengarkan cerita dari awal sampai ibu itu berpamitan hanya mangut-mangut saja. Saking antusias ikut ndengerin cerita itu, aku baru sadar kalau bus sudah longgar, bahkan cuma aku yang berdiri sekarang. Selepas ibu itu turun aku duduk menggantikannya.
Iba rasanya mendengar cerita tentang Ibu Tarkeni. Ternyata masih banyak orang yang hidup pas-pasan bahkan kekuarangan. Huh, semoga saja saat Lina beranjak dewasa Lina  mampu ngluarin mereka dari keterpurukan hidup. Dan ada orang yang mau mbiaya'in pengobatin Ibu Tarkeni dan Lina.

Jumat, 23 Maret 2012

Cerpen : ADUAN DALAM CORETAN


ADUAN DALAM CORETAN
Langit di Kota Batu ini masih dikuasai tentara mendung yang dengan setia mengiringi kerajaan hujan ketika sang surya mulai lelah hingga malam yang tak peduli akan kehangatan. Teriak daun terhempas angin dan gemuruh riuk langit itu semakin membuat hati ini ingin adanya kehangatan. Kehangatan yang tak pernah tercicipi oleh jiwa ini. Kehangatan yang entah apa wujudnya tak dapat terdeteksi oleh otak ini. Kehangatan yang tak pernah tersentuh oleh jemari munggil ini. Kehangatan yang tak pernah menampakkan sosoknya di sepasang penglihatan ini, yang bahkan tak terdengar bisikan lirih di telinga ini.
            Aku masih terpaku lemas di daun jendela tua, menatap jauh kehampaan hingga mataku tertuju pada benda di jauh sana dan membiarkan tepias air menabrak wajah mendungku. Dari dulu, kemarin, tadi bahkan mungkin entah sampai kapan batinku teriris-iris jarum tajam itu. Jarum yang kecil, hingga tak ada yang tahu tentang teriakan hati ini. Yang dengan mudah menusuk hingga dasar hati yang terdalam. Dan membekas pahit hingga ku mati rasa.
***
Pikiranku terbang jauh pada suatu pagi hari itu…
Terdengar nyanyian burung yang belum ku tahu asal merdunya. Apakah di dalam bunga tidurku atau dari dunia yang sungguh menganak tirikan aku hingga rasa tak ingin lebih lama di sini. Kicauan itu semakin lama semakin meruncing, menyadarkan aku. Sumber suara itu ternyata bukan dari dunia anganku, melaimkan dari dunia yang kelam untukku salami. Tapi kicaun semangat keluarga unggas itu telah mengingatkanku akan satu hal. Ya, kali ini aku tak boleh bermalas - malasan lagi dan harus segera mempersiapkan semuanya.
            Aku tersenyum di depan benda yang menggambarkan akan sosok diriku itu. Ku rapikan kain putih dan biru tua yang melekat pada tubuhku ini lalu menyisir rambutku yang jatuh memanjang. Tak sabar aku untuk segera tiba di sana , padahal hari masih berat untuk menampakkan sinarnya. Ku pandangi dan ku nanti tiap detik yang terlahir dari benda bundar berwarna putih itu.
            Tepat pukul 06.20, aku mulai angkat kaki dari rumah megah bercat putih itu. Aku sengaja berangkat ke tempatku mengumpulkan ilmu - ilmu lebih pagi dari biasanya. Dan aku juga sengaja untuk menambil langkah kaki kecil sembari menangkap udara segar di sepanjang jalan yang ku lalui. “Begitu cerah cuaca hari ini dan semoga secerah nasibku kali ini.” Gumamku pada diri sendiri.
***
            Ku nanti sosok wanita yang melahirkanku, ataupun sosok pria yang menjadi pasangannya, setibaku di bangku pojok taman sekolah. Ya, karna hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Salah satu dari orang tua ku telah berjanji akan datang dan mengambil laporan hasil prestasiku selama kurang lebih enam bulan aku duduk di bangku kelas VIII ini. Sepasang bola mataku tak henti – hentinya untuk mencari salah satu dari sosok itu. Ya, saking semangatnya ternyata aku telah maju 2 meter dari tempatku menunggu semula.
Walaupun 30 menit sudah ku nantikan sosok itu yang tanpa ku sadari ternyata cukup melelahkan, tetapi kini ku tak memandang iri lagi pada teman – teman ku yang sudah masuk ruangan bersama salah satu dari orang tua tercintanya yang sudah hadir, karena aku yakin sebentar lagi salah satu orang tua ku juga akan hadir.
Sesosok wanita separuh baya itu terlihat berlari kecil ke arah di mana aku berpijak , karena memang waktu penerimaan rapor akan segera dimulai. Sosok yang ku lihat itu sangatlah tidak asing bagiku. Seorang yang ku lihat setiap hari, seorang yang menjadi temanku di rumah, seorang yang selalu setia mengantarkanku kemanapun aku ingin pergi, seorang yang setiap setengah tahun selalu berkunjung ke tempat ku memperoleh ilmu untuk mengambil hasil laporan belajarku. Ya, tubuhku kini lemas lunglai, senyumku yang menyatu dengan semangat itu rontok sudah, terhempas, tersapu oleh apa yang aku ingin dan rencanakan yang sudah ku bangun telah hilang setelah ku sadari sosok itu telah tepat berada di depan tubuh mungilku, Mbok Inem. Ya, Mbok Inem namanya. Mbok Inemlah yang sering ku lihat sehari – hari dari pada sosok yang melahirkanku, Mbok Inemlah yang yang selalu menjadi temanku di rumah, Mbok Inemlah yang selau setia mengantarkan ku kemanpun aku ingin pergi, dan Mbok Inemlah yang setiap setengah tahun telah mengambilkan laporan hasil belajarku.
***
Tepuk tangan untukku dari semua isi aula ini biasa ku lakoni setiap acara rutin setengah tahun. Ya, mereka semua pasti bangga kalau anaknya mendapat peringkat pertama di kelas bahkan di sekolahan seperti ku saat ini. Sebenarnya aku juga bangga dan bersyukur terhadap prestasi gemilangku ini. Tapi apa gunanya aku di sekolahan pintar dalam hal apapun yang aku mau, selalu mendapatkan sanjungan dari pahlawan – pahlawan tanpa tanda jasa dan teman – teman kalau orang tuaku tidak pernah bangga mempunyai anak sepertiku. Melirik buku hasil belajarku saja tidak pernah.
“Pa, Ma… Papa atau Mama lah yang ku tunggu, untuk sekedar mengambil sepucuk laporan hasil belajarku, bukan Mbok Inem…” Jeritku dalam hati.
***
            Ketika tengah malam bisu itu tiba – tiba terdengar suara alunan dua pasang kaki yang mengendap – endap penuh hati. Aku setengah sadar mengetahui akan hal itu. Tidak lama kemudian terdengarlah…
“ Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to you… “
Mataku langsung terbuka, tersadarkan akan hal yang baru saja ku dengar. Ya, setelah ku cermati dan ku cari ternyata sumber suara itu berasal dari kamar sebelah, yang di huni oleh kakakku, Rivan. Aku berjalan keluar dari daun pintu kamarku dan mengendap – endap ke sumber suara itu. Mataku mengintip dari sebatang kayu pahatan yang sedikit terbuka. Aku melihat Kak Rivan sangat bahagia, hangat dalam pelukan papa, mama dan cahaya kecil dari 2 batang lilin itu. Aku tersenyum melihatnya saat ku bayangkan yang berada dalam pelukan itu aku. Tapi senyumku tersapu sudah oleh kesadaranku saat papa dan mama hendak meninggalkan kamar dari seorang yang sedang mempunyai hari bahagia itu.
***
            Terik matahari yang telah melewati tengah siang itu masih membuat gerah saja. Sesampaiku membuka gagang pintu rumah aku terkejut melihat banyak balon dan kertas warna – warni yang menghias rumah ini. Seharunya aku tak terkejut lagi karena memang setiap tahun seperti inilah keadaan rumah jika sang pemilik hati papa dan mama berulang tahun. Ya, tidak sepatutnya aku terkejut atau iri dengan semua ini. Dari menghias rumah, memesan kue, undangan, dan cathringpun papa dan mama lah yang telah merancang sesempurna ini.
            Dan acara yang dimulai ketika sang surya telah berpaling itu usah sudah. Selama pesta itu berlangsung, tak selangkahpun kakiku boleh keluar dari kamar mungilku ini. Itulah perintah papa dan mama yang sudah ku hafal setiap tanggal 4 Agustus.
***
            Tiba – tiba ada yang membuka gagang pintu kamarku saat badanku sedang tersandar lemas di kursi belajar tua ini. Aku menoleh ke arah pintu kamarku dan . . . . “Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to you… “. Pemilik suara itu berjalan mendekat kepadaku dengan membawakan kue ulang tahun yang sangat ku idam – idamkan sejak kecil tepat di depan mukaku. Mataku langsung berkaca – kaca atas peristiwa yang ku lihat ini, aku diam tak percaya ada orang yang ingat hari ini adalah hari ulang tahunku. Ku pejamkan kedua mata ini dan memulai melontarkan harapan – harapan dalam hati, lalu meniup lilin berangka 14 itu dengan haru. Ku potong kue lembut di hadapanku dan ku berikan potongan pertama untuk orang yang sangat berjasa akan hal ini, Mbok Inem.
            Tak ku sangka aku mulai meneteskan air kesedihan di hadapannya dan mulai protes dengan nasibku…
Mbok, apa aku tak pantas lagi memanggil Ardianto Soebroto dan Elysa Soebroto sebagai Papa dan Mama ku? Aku sangat terbuang dan terpukul, Mbok. Aku ingin keluar dari belenggu ini. Dan aku ingin normal seperti yang lainnya.
Mbok, kenapa aku harus terlahirkan dari rahim Mama yang tak pernah menganggapku ada? Kenapa aku terlahir dengan keadaan seperti ini? Aku lelah Mbok…
Pa, Ma ku mohon lihatlah anakmu ini. Lihat walaupun hanya sekali saja dalam hidupmu. Kenapa Papa Mama selalu memperlakukan aku seperti ini? Kenapa Papa Mama selalu memperhatikan dan sangat menyayangi Kak Rivan? Sedangkan kepadaku..
Apa aku tak pantas menjadi anak Papa Mama? Apa kelahiranku di planet ini tak diinginkan? Aku hanya ingin seperti yang lain Pa, Ma.. Aku lelah..
***
            Di keesokan hari aku dipercaya oleh pihak sekolah untuk mewakili OSN bidang matematika tingkat Provinsi. Tentu aku selalu siap mengikuti bimbingan – bimbingan dari guru – guru ku. Sampai larut malampun aku tak apa agar aku tak memikirkan hal yang selalu kacau di rumah. Toh papa mama tidak pernah khawatir untuk mencariku, bahkan bertanya dimana aku beradapun tak pernah. Malah Mbok Inemlah yang cemas kalau aku terlambat pulang. “Sebenarnya yang orang tuaku ini siapa sih?” Tanyaku setiap pulang terlambat. Hmm, ya, dan sudah ku tebak akulah yang keluar menjadi juaranya. Kini tropi emas itu telah ku bawa untuk sekolah tercinta.
            Walaupun sudah menyumbangkan tropi emas, aku harus mengikuti bimbingan – bimbingan guru ini dan guru itu lagi. Ya, memang aku lebih betah berada di sekolah dari pada di rumah. Tapi kali ini aku benar – benar kelelahan akan jadwal padatku. Terlebih aku harus menyiapkan mental untuk berfikir di laga Internasional itu. Ya, aku telah dipercayai pihak sekolahan lagi bahkan dari pihak negara Indonesia tercinta ini untuk mewakili satu bidang yang diperebutkan satu gelar juara.
            Aku gugup memandang soal bertaraf Internasional ini. Kini yang terpikir olehku adalah papa dan mama. Ku beranikan diri bertanya dalam hati “apa Papa Mama akan bangga dan menoleh ke arahku jika aku keluar menjadi juara nanti? Ya, pasti iya. Aku harus yakin itu.” Tambah batinku saat itu.
***
            Berita akan keberhasilan dari rombongan yang berlaga di Negri Kanguru itu kini menyebar ke seliruh plosok negri. Kedatanagn kami telah ditunggu oleh Mentri Pendidikan, bahkan Bapak Presiden dan Wakil Presiden negri terkasih ini. Di pinggir tempat berparkirnya pesawat terbang itu telah disiapkan kalung bunga, yang akan dikalungkan pada setiap peserta setibanya menginjakkan kaki di Tanah Air Indonesia. Dan tentunya para orang tua dari peserta olympiade yang menguras fikiran itu telah setia menunggu anak emasnya yang dengan sukses memberikan berita gembira untuk keluarga bahkan negrinya.
            Aku sudah tahu, papa dan mama tidak mungkin meluangkan waktunya untuk anak yang entah dianggap atau tidak untuk sekedar hadir bahkan bangga dan tersanjung atas prestasiku kini. Jadi, ku tekadkan untuk mencari Mbok Inem saja, yang pasti telah setia menunggu kedatanganku dari perjalanan yang melelahkan ini. Pencarian akan sosok itu mulai ku sebar dari ujung pojok kiri sampai kanan di tempat tunggu para orang tua sang peraih prestasi – prestasi itu. Sampai – sampai ku jinjitkan kedua kaki ini, untuk mencari Mbok Inem. Dan tepat hampir dipojok, ku dapati sosok Mbok Inem yang berada di urutan ke 3 dari pojok kanan itu. Akupun langsung melambaikan tangan bahagia mungilku ini kepadanya. Tapi aku terkejut ketika yang membalas lambaian tanganku yang menari di udara ini terrnyata ada 3 orang.
            Mataku yang tadinya terpaku dengan Mbok Inem, kini telah berpaling untuk melihat siapa yang juga ikut membalas lambaianku. Dengan berlari kecil, kini kedua sosok itu telah tiba di hadapanku. Memeluk dan menangis haru untukku. Tetapi mataku hanya terpaku kosong melihat lurus ke depan, tak ada suara kecilpun keluar dari mulutku.
“Maafkan Papa Mama, Sayang. Papa dan Mama sangatlah menyesal. Kami baru saja tahu akan semua ini dari Mbok Inem. Maafkan kami, Nak. Papa dan Mama sangatlah bangga kepadamu”. Rintihan kedua orang tuaku yang disusul dengan peluk dan kecupan hangat membuat mataku berkaca – kaca, tapi tetap tak satupun kata keluar dari mulut kelu ku ini.
            Kini ku sangat sadar  siapa yang berkata dan melakukan ini padaku. Ya, terimakasih Tuhan. Terimakasih telah mendengar teriakan hatiku selama ini.
            “Ini semua untuk Papa dan Mama” akhirnya hanya kata – kata itu yang mampu terlahir oleh mulut kelu ku sembari aku tersenyum memegang dan menunjukkan medali emas yang bertengger manis di leherku ini.
***
            “Winda, ayo Sayang makan malam sudah siap!” ajak mama.
            “Iya Ma, sebentar lagi Winda akan turun.” balasku seraya menutup aduan masa laluku dalam diary biru bututku. Lalu menghadap cermin seakan tak percaya akan semua ini.
            “Terimakasih Pa, Ma, berkat Papa dan Mama aku tumbuh menjadi anak yang kuat.” Kataku lirih pada diri sendiri di hadapan cermin tua itu seraya bertekad untuk menjadikan semua ini sebagai pelajaran berharga dan untuk mengingatkan aku, bahwa aku bukanlah apa – apa tanpa papa dan mama.
            “Winda, ayolah kakakmu ini sudah lapar! Kami nggak akan mulai makan tanpa kamu.” Teriak lapar Kak Rivan.
            “Iya Kak.” Balasku dengan semangat dan berlari menuruni anak tangga menuju tempat papa, mama dan Kak Rivan berada.
~TAMAT~
[d-m a]
Arum Puji Hastuti