Pagi ini aku
duduk di kursi depan kost teteh dengan tas punggung besar, nempel di kedua bahu
yang ukurannya nggak proposional banget dengan tubuhku yang kecil.
Merem-melek-merem-melek aku nunggu teteh yang sedari tadi nggak muncul-muncul,
ngemasin barang yang mau dia bawa pulang.
Mataku masih
ngantuk pagi ini, tadi malem abis nonton acara musik di Simpang Lima. Udah gitu
di sini airnya dingin, bbrr. Aku terpaksa mandi sepagi ini, biar nggak kena
macet di jalan.
Aku setengah
sadar merem, kepala yang rasanya berat akhirnya terjatuh juga untuk menghadap
ke bawah. Aku kaget ketika teteh keluar dari pintu, mengajakku segera cabut
dari Semarang. Dia nggak tahu posisi dudukku, sontak aku bangun berdiri bak
tentara yang siap perang, "siap, bersedia!" Teteh yang tengah
mengunci kamar kostnya, berbalik badan, heran, "ngapain kamu?"
Aku cuma
celingukkan, mesem-mesem nggak jelas dan garuk-garuk kepala yang nggak gatal
sama sekali. Ternyata tadi aku lagi terbang ke alam bawah sadarku ketika SMP
dilantik jadi pengurus OSIS. Semua yang dilantik dalam upacara itu pasti akan
bilang, 'SIAP, BERSEDIA!' Hehe.
***
Aku sama teteh
naik BRT di kawasan Milo, sebelumnya kami naik Colt L-300. Agak lama kami
nunggu Trans Semarang (busway) ini. Nggak seperti prediksiku, biasanya kalau
liburan yang naik banyak. Ini mah lebih mirip kuburan sepinya. Cuma ada 4 orang
yang naik, termasuk kami. Sampai tujuan terakhir, Mangkang aja cuma 3 orang.
Karena prediksi
salah alias dikit yang naik, dinginnya AC jadi kerasa. Sial, tadi ditawarin
pakek jaket nggak mau. Aku cuma pakek kaos oblong bergambarkan barong (cidera
mata dari teteh di Pulau Dewata), celana jeans dan sandal kodok.
Mampus.
***
Tiba di Stasiun
Mangkang, aku berjalan keluar BRT. Dingin banget, aku ngliatin orang-orang di
luar dari kaca jadi pengen cepet-cepet keluar dan bersujud syukur bak telah
terbebas dari kutub tanpa pakaian hangat. Sampainya di luar, sinar matahari
menyirami sekujur badanku, hangat.
Tiba-tiba kernet
bus menawari aku sama teteh untuk naik busnya. Sebenarnya pas banget dengan
tujuan kami, Weleri. Teteh setengah berbisik padaku untuk nggak usah naik kalau
udah penuh karena tas teteh super berat trus keadaan dia juga kurang fit, jadi
mau cari bus yang agak longgar. Tapi si kernet tahu, spontan dia nyari'in
tempat duduk buat kami. Eh yang ada cuma satu tempat yang kosong. Jadi, ku persembahkan
untuk teteh duduk.
Aku berdiri di
awak bus, sesekali pegangan sama besi, jok, atau mbenerin tasku yang nggak
kalah berat. Sedangkan teteh duduk di jok depan, tepatnya belakang sopir. Dari
belakang badan ada yang menyenggolku. Ternyata hanya seorang ibu, menggendong
dunak berisi daun-daun pisang dan menggandeng anak perempuannya. Memang awalnya
akupun memandang sebelah mata, tapi itu nggak berlaku lama setelah aku
mendengar seorang ibu separuh baya bercerita kepada temannya.
Mereka berdua
duduk di depanku, mau nggak mau aku pasti denger ceritanya. Karena saking penuh
busnya, jadi terdengar jelas cerita ibu itu yang mulai cerita seturunnya ibu
penjual daun pisang di Pasar Kendal dengan anaknya.
Jadi gini..
Namanya
Tarkeni, penjual daun pisang yang terkena penyakit benjol-benjol di seluruh
tubuh. Entah apa nama penyakit itu Tarkeni nggak pernah periksa ke dokter
karena himpitan ekonomi. Tiap 3 kali seminggu Tarkeni membeli daun pisang pada
Haji Dahlan. Karena nggak tiap hari daun-daun pisang tumbuh dan daun pisang
yang dibutuhkan harus besar nan lebar.
Lina,
anaknya ikut membantu Tarkeni. Tiap hari Minggu atau libur sekolah. Dia biasanya
mencari daun katuk di sekitar kebun pisang milik Haji Dahlan untuk dimasak
ibunya nanti. Ternyata Lina juga menderita penyakit yang sama dengan Tarkeni,
benjolan-benjolan mulai tumbuh di sebagian tubuh Lina.
Hari
itu Tarkeni hanya mampu membeli Rp 4.000 daun pisang. Tentu nggak banyak
jumlahnya, cuma ada 15 ikat daun pisang. Tarkeni mulai menjajankan daunnya
dengan memulai jalan kaki menuju jalan raya. Agak jauh memang, walaupun ada
ojek tapi uangnya cuma cukup buat ongkos bus ke pasar dan modal. Tak apalah,
syukur-syukur ada yang mau beli di jalan, pikirnya.
Tarkeni
hanya berbekal sebotol air minum, ia siapkan dari rumah sebagai pelepas dahaga.
Sesampai di pasar, ia mengantarkan pesanan dari penjual tempe selaku
langganannya sebanyak 7 ikat. Setelah itu Tarkeni keliling pasar berharap
dagangannya laku. Sepanjang jalan Tarkeni melihat pedagang-pedagang tetap
ataupun nggak tetap di pasar yang menawarkan berbagai macam kebutuhan.
Tapi
untuk Tarkeni hanya daun pisang yang mampu ia jual. Dan kini semakin hari
pesanan dan minat para pembeli daun Tarkeni semakin menipis saja. Memang
sekarang jaman sudah modern, orang-orang lebih mengandalkan plastik dari pada
daun pisang. Tetapi Tarkeni tak patah semangat, ia tetap menawarkan seikat demi
seikat daun pisang.
Tinggal
2 ikat daun tersisa, setelah ia berkeliling kini ia dan Lina tengah duduk di
pinggir pintu keluar pasar. Menunggu pembeli sembari istirahat menikmati bekalnya. Tak lama, ada
seorang ibu yang mau membeli daunnya. Kebetulan ibu itu butuh 2 ikat. 2 ikat
yang seharusnya dibayar Rp 1.000 malah ditawar 2 ikat Rp 500 (Astaganagabonarjadidua,
untungnya aja cuma
dikit, Buk.
Masih aja ditawar!)
Tarkeni menerima saja, toh hari sudah siang. Yang penting jualan habis itu
Tarkeni sudah seneng.
***
Sesampai
di rumah, Tarkeni menghitung jualannya. Hanya Rp 6.000 yang ia dapat setelah
dipotong buat ongkos bus. Selepas menghitung, ia selalu menyisakan Rp 1.000 per
hari untuk membayar listrik yang ia simpan di kaleng kecil.
Membayar
listrik Rp 15.000 per bulan baginya sangat berat. Belum lagi untuk sekolah
Lina. Walaupun hidup susah tapi Tarkeni selalu berusaha agar Lina tetap
sekolah. Bagi Tarkeni, Lina adalah cahaya bagi hidupnya. Wajah Lina yang
mewarisi wajah Almarhum Sutikno, suaminya selalu menjadi penyemangat hidup
Tarkeni. Untuk makan Tarkeni hanya perlu membeli beras untuk berdua. Untuk lauk
pauknya sangat sederhana, sayur daun katuk yang Lina petik dan sesekali telur
dari ayam ternaknya.
***
Seorang ibu yang
bercerita ternyata dulu tetangga Tarkeni sebelum ikut suaminya di Wonotenggang.
Dia berhenti bercerita karena hampir sampai tujuannya, Ungup-ungup Weleri.
Teman ibu yang
mendengarkan cerita dari awal sampai ibu itu berpamitan hanya mangut-mangut
saja. Saking antusias ikut ndengerin cerita itu, aku baru sadar kalau bus sudah
longgar, bahkan cuma aku yang berdiri sekarang. Selepas ibu itu turun aku duduk
menggantikannya.
Iba rasanya
mendengar cerita tentang Ibu Tarkeni. Ternyata masih banyak orang yang hidup
pas-pasan bahkan kekuarangan. Huh, semoga saja saat Lina
beranjak dewasa Lina mampu ngluarin mereka dari keterpurukan hidup.
Dan ada orang yang mau mbiaya'in pengobatin Ibu Tarkeni dan Lina.
Langit di Kota Batu ini masih dikuasai tentara mendung
yang dengan setia mengiringi kerajaan hujan ketika sang surya mulai lelah
hingga malam yang tak peduli akan kehangatan. Teriak daun terhempas angin dan
gemuruh riuk langit itu semakin membuat hati ini ingin adanya kehangatan.
Kehangatan yang tak pernah tercicipi oleh jiwa ini. Kehangatan yang entah apa
wujudnya tak dapat terdeteksi oleh otak ini. Kehangatan yang tak pernah
tersentuh oleh jemari munggil ini. Kehangatan yang tak pernah menampakkan
sosoknya di sepasang penglihatan ini, yang bahkan tak terdengar bisikan lirih
di telinga ini.
Aku masih terpaku lemas di daun
jendela tua, menatap jauh kehampaan hingga mataku tertuju pada benda di jauh
sana dan membiarkan tepias air menabrak wajah mendungku. Dari dulu, kemarin,
tadi bahkan mungkin entah sampai kapan batinku teriris-iris jarum tajam itu.
Jarum yang kecil, hingga tak ada yang tahu tentang teriakan hati ini. Yang
dengan mudah menusuk hingga dasar hati yang terdalam. Dan membekas pahit hingga
ku mati rasa.
***
Pikiranku terbang jauh pada suatu pagi hari itu…
Terdengar
nyanyian burung yang belum ku tahu asal merdunya. Apakah di dalam bunga tidurku
atau dari dunia yang sungguh menganak tirikan aku hingga rasa tak ingin lebih
lama di sini. Kicauan itu semakin lama semakin meruncing, menyadarkan aku. Sumber
suara itu ternyata bukan dari dunia anganku, melaimkan dari dunia yang kelam
untukku salami. Tapi kicaun semangat keluarga unggas itu telah mengingatkanku
akan satu hal. Ya, kali ini aku tak boleh bermalas - malasan lagi dan harus
segera mempersiapkan semuanya.
Aku tersenyum di depan benda yang
menggambarkan akan sosok diriku itu. Ku rapikan kain putih dan biru tua yang
melekat pada tubuhku ini lalu menyisir rambutku yang jatuh memanjang. Tak sabar
aku untuk segera tiba di sana , padahal hari masih berat untuk menampakkan
sinarnya. Ku pandangi dan ku nanti tiap detik yang terlahir dari benda bundar
berwarna putih itu.
Tepat pukul 06.20, aku mulai angkat
kaki dari rumah megah bercat putih itu. Aku sengaja berangkat ke tempatku
mengumpulkan ilmu - ilmu lebih pagi dari biasanya. Dan aku juga sengaja untuk
menambil langkah kaki kecil sembari menangkap udara segar di sepanjang jalan
yang ku lalui. “Begitu cerah cuacahari ini dan semoga secerah nasibku kali
ini.” Gumamku pada diri sendiri.
***
Ku nanti sosok wanita yang
melahirkanku, ataupun sosok pria yang menjadi pasangannya, setibaku di bangku
pojok taman sekolah. Ya, karna hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Salah
satu dari orang tua ku telah berjanji akan datang dan mengambil laporan hasil
prestasiku selama kurang lebih enam bulan aku duduk di bangku kelas VIII ini.
Sepasang bola mataku tak henti – hentinya untuk mencari salah satu dari sosok
itu. Ya, saking semangatnya ternyata aku telah maju 2 meter dari tempatku
menunggu semula.
Walaupun 30 menit sudah ku nantikan sosok itu yang tanpa
ku sadari ternyata cukup melelahkan, tetapi kini ku tak memandang iri lagi pada
teman – teman ku yang sudah masuk ruangan bersama salah satu dari orang tua
tercintanya yang sudah hadir, karena aku yakin sebentar lagi salah satu orang
tua ku juga akan hadir.
Sesosok wanita separuh baya itu terlihat berlari kecil
ke arah di mana aku berpijak , karena memang waktu penerimaan rapor akan segera
dimulai. Sosok yang ku lihat itu sangatlah tidak asing bagiku. Seorang yang ku
lihat setiap hari, seorang yang menjadi temanku di rumah, seorang yang selalu
setia mengantarkanku kemanapun aku ingin pergi, seorang yang setiap setengah
tahun selalu berkunjung ke tempat ku memperoleh ilmu untuk mengambil hasil
laporan belajarku. Ya, tubuhku kini lemas lunglai, senyumku yang menyatu dengan
semangat itu rontok sudah, terhempas, tersapu oleh apa yang aku ingin dan
rencanakan yang sudah ku bangun telah hilang setelah ku sadari sosok itu telah
tepat berada di depan tubuh mungilku, Mbok Inem. Ya, Mbok Inem namanya. Mbok
Inemlah yang sering ku lihat sehari – hari dari pada sosok yang melahirkanku,
Mbok Inemlah yang yang selalu menjadi temanku di rumah, Mbok Inemlah yang selau
setia mengantarkan ku kemanpun aku ingin pergi, dan Mbok Inemlah yang setiap
setengah tahun telah mengambilkan laporan hasil belajarku.
***
Tepuk tangan untukku dari semua isi aula ini biasa ku
lakoni setiap acara rutin setengah tahun. Ya, mereka semua pasti bangga kalau
anaknya mendapat peringkat pertama di kelas bahkan di sekolahan seperti ku saat
ini. Sebenarnya aku juga bangga dan bersyukur terhadap prestasi gemilangku ini.
Tapi apa gunanya aku di sekolahan pintar dalam hal apapun yang aku mau, selalu
mendapatkan sanjungan dari pahlawan – pahlawan tanpa tanda jasa dan teman –
teman kalau orang tuaku tidak pernah bangga mempunyai anak sepertiku. Melirik
buku hasil belajarku saja tidak pernah.
“Pa, Ma…
Papa atau Mama lah yang ku tunggu, untuk sekedar mengambil sepucuk laporan
hasil belajarku, bukan Mbok Inem…”
Jeritku dalam hati.
***
Ketika tengah malam bisu itu tiba –
tiba terdengar suara alunan dua pasang kaki yang mengendap – endap penuh hati.
Aku setengah sadar mengetahui akan hal itu. Tidak lama kemudian terdengarlah…
“
Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday..
Happy birthday to you… “
Mataku
langsung terbuka, tersadarkan akan hal yang baru saja ku dengar. Ya, setelah ku
cermati dan ku cari ternyata sumber suara itu berasal dari kamar sebelah, yang
di huni oleh kakakku, Rivan. Aku berjalan keluar dari daun pintu kamarku dan
mengendap – endap ke sumber suara itu. Mataku mengintip dari sebatang kayu
pahatan yang sedikit terbuka. Aku melihat Kak Rivan sangat bahagia, hangat
dalam pelukan papa, mama dan cahaya kecil dari 2 batang lilin itu. Aku
tersenyum melihatnya saat ku bayangkan yang berada dalam pelukan itu aku. Tapi
senyumku tersapu sudah oleh kesadaranku saat papa dan mama hendak meninggalkan
kamar dari seorang yang sedang mempunyai hari bahagia itu.
***
Terik matahari yang telah melewati
tengah siang itu masih membuat gerah saja. Sesampaiku membuka gagang pintu
rumah aku terkejut melihat banyak balon dan kertas warna – warni yang menghias
rumah ini. Seharunya aku tak terkejut lagi karena memang setiap tahun seperti
inilah keadaan rumah jika sang pemilik hati papa dan mama berulang tahun. Ya,
tidak sepatutnya aku terkejut atau iri dengan semua ini. Dari menghias rumah,
memesan kue, undangan, dan cathringpun papa dan mama lah yang telah merancang
sesempurna ini.
Dan acara yang dimulai ketika sang
surya telah berpaling itu usah sudah. Selama pesta itu berlangsung, tak
selangkahpun kakiku boleh keluar dari kamar mungilku ini. Itulah perintah papa
dan mama yang sudah ku hafal setiap tanggal 4 Agustus.
***
Tiba – tiba ada yang membuka gagang
pintu kamarku saat badanku sedang tersandar lemas di kursi belajar tua ini. Aku
menoleh ke arah pintu kamarku dan . . . . “Happy
birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday.. Happy
birthday to you… “. Pemilik suara itu berjalan mendekat kepadaku dengan
membawakan kue ulang tahun yang sangat ku idam – idamkan sejak kecil tepat di
depan mukaku. Mataku langsung berkaca – kaca atas peristiwa yang ku lihat ini,
aku diam tak percaya ada orang yang ingat hari ini adalah hari ulang tahunku.
Ku pejamkan kedua mata ini dan memulai melontarkan harapan – harapan dalam
hati, lalu meniup lilin berangka 14 itu dengan haru. Ku potong kue lembut di
hadapanku dan ku berikan potongan pertama untuk orang yang sangat berjasa akan
hal ini, Mbok Inem.
Tak ku sangka aku mulai meneteskan
air kesedihan di hadapannya dan mulai protes dengan nasibku…
Mbok, apa aku tak pantas lagi
memanggil Ardianto Soebroto dan Elysa Soebroto sebagai Papa dan Mama ku? Aku
sangat terbuang dan terpukul, Mbok. Aku ingin keluar dari belenggu ini. Dan aku
ingin normal seperti yang lainnya.
Mbok, kenapa aku harus
terlahirkan dari rahim Mama yang tak pernah menganggapku ada? Kenapa aku
terlahir dengan keadaan seperti ini? Aku lelah Mbok…
Pa, Ma ku mohon lihatlah anakmu
ini. Lihat walaupun hanya sekali saja dalam hidupmu. Kenapa Papa Mama selalu
memperlakukan aku seperti ini? Kenapa Papa Mama selalu memperhatikan dan sangat
menyayangi Kak Rivan? Sedangkan kepadaku..
Apa aku tak pantas menjadi anak
Papa Mama? Apa kelahiranku di planet ini tak diinginkan? Aku hanya ingin
seperti yang lain Pa, Ma.. Aku lelah..
***
Di keesokan hari aku dipercaya oleh
pihak sekolah untuk mewakili OSN bidang matematika tingkat Provinsi. Tentu aku
selalu siap mengikuti bimbingan – bimbingan dari guru – guru ku. Sampai larut
malampun aku tak apa agar aku tak memikirkan hal yang selalu kacau di rumah.
Toh papa mama tidak pernah khawatir untuk mencariku, bahkan bertanya dimana aku
beradapun tak pernah. Malah Mbok Inemlah yang cemas kalau aku terlambat pulang.
“Sebenarnya yang orang tuaku ini siapa
sih?” Tanyaku setiap pulang terlambat. Hmm, ya, dan sudah ku tebak akulah
yang keluar menjadi juaranya. Kini tropi emas itu telah ku bawa untuk sekolah
tercinta.
Walaupun sudah menyumbangkan tropi
emas, aku harus mengikuti bimbingan – bimbingan guru ini dan guru itu lagi. Ya,
memang aku lebih betah berada di sekolah dari pada di rumah. Tapi kali ini aku
benar – benar kelelahan akan jadwal padatku. Terlebih aku harus menyiapkan
mental untuk berfikir di laga Internasional itu. Ya, aku telah dipercayai pihak
sekolahan lagi bahkan dari pihak negara Indonesia tercinta ini untuk mewakili
satu bidang yang diperebutkan satu gelar juara.
Aku gugup memandang soal bertaraf
Internasional ini. Kini yang terpikir olehku adalah papa dan mama. Ku beranikan
diri bertanya dalam hati “apaPapa Mama akan bangga dan menoleh ke arahku
jika aku keluar menjadi juara nanti?Ya,
pasti iya. Aku harus yakin itu.” Tambah batinku saat itu.
***
Berita akan keberhasilan dari
rombongan yang berlaga di Negri Kanguru itu kini menyebar ke seliruh plosok
negri. Kedatanagn kami telah ditunggu oleh Mentri Pendidikan, bahkan Bapak
Presiden dan Wakil Presiden negri terkasih ini. Di pinggir tempat berparkirnya
pesawat terbang itu telah disiapkan kalung bunga, yang akan dikalungkan pada
setiap peserta setibanya menginjakkan kaki di Tanah Air Indonesia. Dan tentunya
para orang tua dari peserta olympiade yang menguras fikiran itu telah setia
menunggu anak emasnya yang dengan sukses memberikan berita gembira untuk
keluarga bahkan negrinya.
Aku sudah tahu, papa dan mama tidak
mungkin meluangkan waktunya untuk anak yang entah dianggap atau tidak untuk
sekedar hadir bahkan bangga dan tersanjung atas prestasiku kini. Jadi, ku
tekadkan untuk mencari Mbok Inem saja, yang pasti telah setia menunggu
kedatanganku dari perjalanan yang melelahkan ini. Pencarian akan sosok itu
mulai ku sebar dari ujung pojok kiri sampai kanan di tempat tunggu para orang
tua sang peraih prestasi – prestasi itu. Sampai – sampai ku jinjitkan kedua
kaki ini, untuk mencari Mbok Inem. Dan tepat hampir dipojok, ku dapati sosok
Mbok Inem yang berada di urutan ke 3 dari pojok kanan itu. Akupun langsung
melambaikan tangan bahagia mungilku ini kepadanya. Tapi aku terkejut ketika
yang membalas lambaian tanganku yang menari di udara ini terrnyata ada 3 orang.
Mataku yang tadinya terpaku dengan
Mbok Inem, kini telah berpaling untuk melihat siapa yang juga ikut membalas
lambaianku. Dengan berlari kecil, kini kedua sosok itu telah tiba di hadapanku.
Memeluk dan menangis haru untukku. Tetapi mataku hanya terpaku kosong melihat
lurus ke depan, tak ada suara kecilpun keluar dari mulutku.
“Maafkan
Papa Mama, Sayang. Papa dan Mama sangatlah menyesal. Kami baru saja tahu akan
semua ini dari Mbok Inem. Maafkan kami, Nak. Papa dan Mama sangatlah bangga
kepadamu”. Rintihan kedua orang tuaku
yang disusul dengan peluk dan kecupan hangat membuat mataku berkaca – kaca,
tapi tetap tak satupun kata keluar dari mulut kelu ku ini.
Kini ku sangat sadar siapa yang berkata dan melakukan ini padaku.
Ya, terimakasih Tuhan. Terimakasih telah mendengar teriakan hatiku selama ini.
“Ini
semua untuk Papa dan Mama” akhirnya hanya kata – kata itu yang mampu
terlahir oleh mulut kelu ku sembari aku tersenyum memegang dan menunjukkan
medali emas yang bertengger manis di leherku ini.
***
“Winda, ayo Sayang makan malam sudah
siap!” ajak mama.
“Iya Ma, sebentar lagi Winda akan
turun.” balasku seraya menutup aduan masa laluku dalam diary biru bututku. Lalu
menghadap cermin seakan tak percaya akan semua ini.
“Terimakasih Pa, Ma, berkat Papa dan
Mama aku tumbuh menjadi anak yang kuat.” Kataku lirih pada diri sendiri di
hadapan cermin tua itu seraya bertekad untuk menjadikan semua ini sebagai pelajaran
berharga dan untuk mengingatkan aku, bahwa aku bukanlah apa – apa tanpa papa
dan mama.
“Winda, ayolah kakakmu ini sudah
lapar! Kami nggak akan mulai makan tanpa kamu.” Teriak lapar Kak Rivan.
“Iya Kak.” Balasku dengan semangat
dan berlari menuruni anak tangga menuju tempat papa, mama dan Kak Rivan berada.